Kliping

“Social Media for Social Community” w/ Andin Rahmana

Disalin dari : http://akberjogja.tumblr.com/post/129479530856/social-media-for-social-community-w-andin


Berbicara mengenai media sosial, memang tak ada habisnya. Namun, membicarakan peran sosial media untuk kepentingan komunitas atau organisasi tampaknya jarang dibicarakan dan menjadi materi yang menarik. Kali ini, Akber Jogja akan membicarakan tentang sosial media dengan tema “Social Media for Social Community”. Kelas yang diadakan pada Kamis lalu (10/9) di Loop Station (@loopstation_YK) dipandu langsung oleh mas Andin Rahmana (@andinrahmana), Digital Media Manager di Swaragama Group.

image

“Hampir semua orang mempunyai media sosial”

Oke, siapa sih yang gak punya media sosial (medsos)? Hampir semua orang, terutama anak muda mempunyai akun medsos. Sebelum materi utama dimulai, mas Andin menyampaikan fakta-fakta terkait media sosial. Terdapat sebanyak 82 juta pengguna internet di Indonesia dengan mayoritas penggunanya adalah anak muda berusia 15-29 tahun. Dalam sehari, biasanya para pengguna internet menghabiskan waktu selama 196 menit dan sebanyak 98% waktunya digunakan untuk mengecek sosial media. Berdasarkan fakta di atas, terlihat bahwa media sosial menjadi pilihan yang strategis untuk menyampaikan sesuatu.

“Medsos pribadi berbeda dengan medsos komunitas”

Apabila medsos pribadi diciptakan untuk kepentingan pribadi, maka si pemilik bebas berekspresi di dalam medsos yang ia punya. Memposting segala hal yang ia lakukan setiap jam, menit atau detik bahkan menjadikan medsos sebagai tempat ia mencurahkan segala emosi nya, tampaknya sah-sah saja. Namun, menggunakan akun media sosial untuk kepentingan komunitas tentulah berbeda. Jangan harap kamu sebagai admin dapat mencurahkan segala perasaan dalam diri kamu di medsos komunitas. Bisa-bisa follower yang ada di medsos komunitas mu bakal mem-block atau meng­-unfollow akun komunitasmu.

“Optimalkan medsos komunitas mu dengan 4C”

Lalu, bagaimana sih caranya supaya medsos komunitas kamu bisa optimal? Biar komunitas dan kegiatan-kegiatan komunitasmu dikenal banyak orang? Nah, hal yang harus diperhatikan adalah 4C ini nih Akberians. 4C itu meliputi Content, Context, Consistency, dan Creativity.

Pertama adalah content. Orang Indonesia dikenal menyukai hal-hal yang berbau emosional. Akberians tahu iklan LINE? Iklan salah satu media sosial ini sebenarnya hanya ingin menyampaikan salah satu manfaat dari LINE, yaitu video call. Namun, iklan ini justru menarik karena di dalamnya mengandung cerita di dalamnya, The Power of Storytelling.

image

Nah, misalnya Akberians menjadi admin di medsos komunitas dan akan menyampaikan informasi mengenai komunitasnya, gunakan The Power of Storytelling ini bisa nih. Konten yang ingin disampaikan bisa seperti:

“Mau tahu apa yang kami lakukan?”

“Bagaimana cerita kami?”

“Penasaran dengan kegiatan kami selanjutnya?”

Konten tersebut lebih terlihat santai dan menarik daripada penyampaian yang seperti ini yang terlihat kaku

 “Kami adalah..”

“Adapun kegiatan kami, diantaranya..”

Adapula beberapa kunci agar konten yang ingin disampaikan lebih baik dan menarik, diantaranya adalah visual. Konten gak melulu berkaitan dengan teks. Adanya visual atau gambar dapat menarik perhatian pengguna medsos dan lebih cepat diproses 60.000 kali. Selain itu penggunaan bahasa yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan akan lebih mudah dipahami oleh para pengguna medsos. Maka, hindarilah penggunakan kata-kata seperti “nich” atau “sich” dll.

Kedua, context. Media sosial komunitas tak hanya membicarakan tentang komunitas nya itu sendiri. Konteks yang ingin disampaikan bisa tentang isu-isu yang sedang terjadi di dunia global. Manfaatkan medsos komunitas untuk ikut membahas hal-hal tersebut. Misalnya komunitas Akber Jogja ikut merayakan hari pendidikan dengan menyelenggarakan kelas, komunitas Kaskus Regional Yogya mengadakan bagi-bagi cendol untuk berbuka, dll.

image

Ketiga adalah consistency. Media sosial komunitas dituntut untuk selalu aktif agar tetap dikenal dan dianggap ada oleh banyak orang. Tidak perlu untuk mengupload atau men-tweet seseuatu secara langsung. Cukup 1-2 kali posting dalam satu hari dan dilakukan secara kontinu akan lebih mudah diterima oleh orang lain. Jika memposting setiap hari dirasa berat, medsos komunitasmu dapat melakukan postingan secara harian. Misalnya setiap hari Senin, komunitas mu dapat menyampaikan artikel baru atau setiap Kamis akan menyampaikan video baru, dll.

Keempat, creativity. Persaingan yang semakin ketat menuntut kita untuk terus kreatif dan inovatif termasuk dalam menggunakan medsos bagi komunitas. Banyak hal yang dapat disampaikan di dalam media sosial komunitas. Kamu bisa memanfaatkan medsos komunitas kamu untuk fund raising, berkampanye isu-su sosial atau menyampaikan infografik yang mengemas fakta dengan gambar.

image

 Nah, sekian review dari kelas “Social Media for Social Community” bareng Mas Andin di Loop Station. Bagi Akberians yang ingin mendapatkan materi presentasi bisa diunggah disini

Terimakasih kepada Mas Andin atas sharing tentang media sosial, Loop Station YK yang bersedia membagi space untuk menyelenggarakan kelas, serta Akberians yang sudah datang menyimak materi yang disampaikan. (@atristya)

PIC yang bertugas : – Tya – Aan – Atok – Isna – Eni

AKADEMI BERBAGI
Berbagi Bikin Happy 

Kliping

#LetsGetSocial (1): Belajar Digital For Nonprofit di Yogyakarta

Disalin dari : https://www.techsoup.asia/en-AU/%2523LetsGetSocial-Yogyakarta-Nonprofit


Berkolaborasi dengan Forum Jogja Peduli, #LetsGetSocial pertama diselenggarakan di Club House Bale Hinggil, Yogyakarta (29/08). #LetsGetSocial adalah casual meetup untuk organisasi nonprofit dan komunitas yang mendiskusikan penggunaan teknologi digital untuk perubahan sosial. 35 pegiat sosial dari berbagai organisasi dan komunitas hadir untuk meramaikan forum diskusi ini.

 

Diskusi dimulai dengan materi dari Irfan Prabowo (Community Manager Hipwee) yang bercerita tentang Design Thinking For Social Movement. Design Thinking adalah salah satu metode kerangka berpikir yang digunakan untuk mendesain solusi dari sebuah masalah. Walaupun Design Thinking lebih populer di teknologi dan inovasi, Design Thinking juga dapat digunakan untuk gerakan sosial.

 

 

Metode ini berfokus pada mendefinisikan masalah, kolaborasi ide, membuat prototipe, dan melakukan uji produk yang dihasilkan. Fanbul – sapaan akrab Irfan – juga menceritakan pengalamannya mengimplementasikan Design Thinking di berbagai NGO di Malaysia.

Diskusi dilanjutkan dengan pemaparan dari Iqbal Hariadi (Kitabisa.com) tentang Online Fundraising. Iqbal bercerita tentang Kitabisa yang telah berjalan lebih dari 2 tahun, mengumpulkan lebih dari 3 Milyar, dan mensukseskan 170 inisiatif sosial. Online fundraising adalah cara baru untuk mengajak lebih banyak orang berpartisipasi dalam suatu perubahan sosial.

 

 

Iqbal memberikan beberapa contoh proyek penggalangan dana yang menghasilkan inovasi sosial. Di luar negeri, beberapa contoh inovasi sosial lahir dari inisiatif online fundraising, seperti Favelas Painting di Brazil dan produk Refold di New Zealand. Di Indonesia, beberapa kampanye sukses yang menjadi simbol kolaborasi diantaranya adalah Bus Donor Darah yang mengumpulkan 525.000.000 rupiah.

 

Di sesi terakhir, Andin Rahmana (Digital Media Manager Swaragama Group) berbagi inspirasi tentang penggunaan sosial media untuk organisasi nonprofit. Di era dimana setiap orang dengan mudah terdistraksi oleh informasi, maka untuk menyebarkan sebuah isu kita harus bisa mengemasnya dalam kampanye yang menarik. Andin berbagi cerita beberapa kampanye isu sosial yang dikemas dalam gerakan yang menarik seperti Quran Indonesia Project dan beberapa insight dalam mebuat kampanye yang relevan dengan audiens.

 

 

#LetsGetSocial ditutup dengan pemaparan tentang program Google For Nonprofit yang sudah hadir di Indonesia. Google menawarkan Google Apps, Youtube Premium, dan hibah beriklan di Google Adwords senilai 10.000$ per bulan untuk organisasi nonprofit yang terdaftar di Techsoup Asia. Baca lebih lanjut tentang Google For Nonprofit di sini.

 

Diskusi siang itu ditutup dengan sesi foto bersama para peserta. #LetsGetSocial akan menjadi agenda rutin Techsoup Asia dan KJitabisa.com untuk mewadahi diskusi pegiat sosial dan organisasi nonprofit di berbagai kota. Terima kasih Jogja yang telah menjadi kota pertama, sampai jumpa di kota berikutnya!

 

 

Materi presentasi dan ebook tentang Design Thinking, Social Media Toolkit For Nonprofits, dan The Pocket Guide to Online Fundraising dapat diunduh di sini.

Kliping

Foto Selfie Bunga Lily Berujung Bully

Disalin dari : http://jogja.tribunnews.com/2015/11/28/foto-selfie-bunga-lily-berujung-bully


komentar-pengguna-medsos-bunga-lily_20151128_153452

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Kebun bunga lily berwarna oranye jadi bahasan di kalangan pengguna media sosial. Keindahan bunga tersebut seakan menarik lebih banyak orang untuk datang mengunjungi kebun yang berada di Pathuk, Gunungkidul.

Namun, imbasnya beberapa titik di kebun bunga itu harus rusak karena terinjak orang-orang yang datang hanya demi mendapatkan foto yang paling indah.

Pengamat media sosial, Andin Rahmana mengatakan bahwa fenomena orang yang tiba-tiba berbondong-bondong mendatangi kebun bunga lily itu lantaran masih banyaknya orang yang mudah takjub dan heboh akan suatu hal yang baru.

Dengan budaya “update”, mereka seakan tak mau ketinggalan dan turut ambil bagian dari apa yang saat ini sedang populer.

“Bahkan ada kesan ingin menjadi yang pertama dan menjadi hits atau populer. Ada kebanggaan tersendiri apabila postingannya banyak dilihat dan dia menjadi orang yang pertama kali mengunggah itu,” jelas Andin Rahmana, Sabtu (28/11/2015).

Terkait kebun bunga lily yang akhirnya rusak, Andin mengatakan bahwa yang berkembang saat ini adalah budaya pamer yang cenderung berlebihan. Ada beberapa orang yang berlomba-lomba selfie untuk narsis dengan pose yang tidak biasa.

“Demi keindahan bahkan ada yang sambil tiduran dan menginjak bunga,” tuturnya.

Tentu hal itu sangat disayangkan, Andin mengatakan bahwa sejatinya media sosial adalah tempat yang netral dan tempat untuk ajang mengekspresikan diri, silaturahmi dan berbagi cerita.

Akan tetapi terkadang pengguna terlena dan terlalu menyombongkan dirinya sehingga akhirnya sosial media sebagai ajang untuk saling pamer. Dalam hal ini, berujung dengan tindakan merusak.

Pada perkembangannya, foto keindahan itu akhirnya berujung pada ajang untuk melakuking bullying. Dengan mudah, masyarakat terhasut dan turut melontarkan ucapan-ucapan kasar kepada orang yang mengunggah foto-foto tertentu.

Perbuatan merusak yang dinilai salah mengakibatkan masyarakat pengguna media sosial kesal lantas mengekspresikan kekesalan mereka dengan mengucapakan kata-kata kasar di akun si pengunggah.

Terkait bully itu sendiri, pengamat media sosial ini mengatakan bahwa ada dua sisi dalam kasus tersebut.

Yang pertama adalah orang yang mengunggah foto atau tulisan tanpa berpikir panjang, dan yang kedua adalah tingkat kedewasaan orang yang mem-bully.

“Yang harus ditinggkatkan adalah kesadaran diri, bagaimana kalau memposting harus lebih berhati-hati termasuk dalam berkomentar,” paparnya. (*)

Kliping

Startup Itu Apa Sih?

Disalin dari : http://jogjadigitalvalley.com/startup-itu-apa-sih/


Mendefinisikan start-up sering kali menjadi hal yang sangat sulit. “Lha gimana mau bisa mendefinisikan wong artinya aja masih ga ngerti.” Kira-kira begitulah ucapan sebagian besar pemuda-pemudi Jogja yang sempat saya tanyai beberapa hari ini. Rupanya, istilah ini belum cukup populer dikalangan pemuda-pemudi Jogja.

Menurut Andin Rahmana (@andinrahmana), seorang pemuda yang sedang berkuliah di Jogja dan mengaku sebagai tenaga kerja digital, Startup adalah perusahaan baru yang biasanya bergerak di bidang teknologi informasi dan menggunakan media internet sebagai platform nya. Perusahaan ini menghasilkan produk-produk digital (seperti aplikasi web atau layanan melalui website) dan biasanya isu produknya berhubungan dengan permasalahan sehari-hari. Karena spesifikasi teknologi informasi ini lah kemudian istilah bisnis start-up sering di identikan dengan pekerjaan bagi  tech savvy. Padahal, untuk membuat sebuah bisnis start-up seseorang tidak harus memiliki background sebagai tech savvy asalkan memiliki ide yang out of the box. Sebagai ilustrasi, ide merupakan bahan pokok bagi sebuah bisnis startup, namun bahan pokok tersebut tidak akan menjadi bisnis startup apabila tidak diolah sedemikian rupa dan dimasak hingga matang, dari sini dibutuhkan tenaga ahli seperti tech savvy.

how-to-do-a-startup

Pada dasarnya, membuat startup merupakan hal yang mudah bagi mahasiswa. Kenapa? Selain masih memiliki kreativitas, semangat, dan idealisme, mahasiswa juga masih memiliki kebebasan dan tidak memiliki tuntutan untuk mendapatkan uang dengan cepat. Mahasiswa masih memiliki umur yang panjang, sehingga apabila bisnis tersebut mengalami kegagalan mahasiswa masih memiliki semangat untuk belajar dan mencoba lagi hingga berhasil. Selain itu, mahasiswa masih bebas meng-explore dunia ini, apabila kita mulai mengelola bisnis start-up dari sekarang, 2 – 3 tahun kemudian, umur kita sudah matang untuk mengolahnya lebih serius.

Yang perlu dilakukan untuk memulai bisnis startup adalah ciptakan ide-ide brilian kalian, realisasikan, dan bekerjasamalah dengan teman-temanmu untuk menciptakan bisnis tersebut. Hal yang penting juga, jangan lupa untuk memanfaatkan kemudahaan teknologi di era ini dan jangan takut untuk gagal seperti kata Steve Jobs, “Let’s go invent tomorrow, rather than worrying about what happened yesterday” jadi jangan takut gagal dan mencoba lagi. Tertarik untuk berbisnis startup?

Kliping

Menumbuhkembangkan Ekonomi Kreatif Melalui Karya Tulis Mahasiwa

Disalin dari : http://www.kemenpar.go.id/asp/detil.asp?c=16&id=2436


131010 Karya Tulis Kreatif (6)

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyelenggarakan Lomba Karya Tulis Ekonomi Kreatif Tingkat Nasional untuk Mahasiswa Tahun 2013 dengan tema “Kreativitas untuk Memperkuat Jati Diri Bangsa”. Penganugerahan dan penyerahan hadiah pemenang Lomba Karya Tulis Ekonomi Kreatif diselenggarakan di Hotel Millenium, Jakarta pada Kamis 10 Oktober 2013.

Sektor ekonomi kreatif merupakan sektor yang telah ada sejak lama namun baru berkembang dan menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah, sejak pencanangan Tahun Indonesia Kreatif 2009, karena pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi kreatif 2006 cukup tinggi, bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Pengembangan ekonomi kreatif, membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan kreatif, dan kreativitas SDM perlu dibentuk sejak dini, dimulai dari dunia pendidikan.

Melalui lomba karya tulis untuk mahasiswa, diharapkan dapat mengenalkan ekonomi kreatif kepada mahasiswa sebagai calon intelektual dan praktisi, disamping itu langkah ini juga diharapkan membangkitkan minat kalangan mahasiswa agar aktif menulis dan sarana mengembangkan kreativitas dengan merumuskan konsep-konsep pengembangan konten penyiaran yang lebih berkarakter Indonesia serta membuat mahasiswa tertarik melakukan penelitian di bidang ekonomi kreatif,

131010 Karya Tulis Kreatif (10)

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, I Gde Pitana mengatakan karya tulis yang dikirim oleh para mahasiswa ini dapat menjadi representasi pemahaman masyarakat umum mengenai definisi ekonomi kreatif, walaupun hal tersebut belum cukup kuat untuk dijadikan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, namun bisa menjadi tolok ukur peran serta mahasiswa .

131010 Karya Tulis Kreatif (9)

Pada penyelenggaraan lomba karya tulis ekonomi kreatif yang pertama ini, sub sektor ekonomi kreatif penyiaran dipilih sebagai materi yang dibahas oleh para peserta lomba dalam karya tulis yang disusunnya. Adapun sub temanya adalah “Pengembangan kreativitas konten berbasis seni dan budaya Indonesia dalam industri penyiaran”. Lomba ini sebagai upaya menjaring pemahaman mahasiswa mengenai definisi ekonomi kreatif dan sub sektor penyiaran di media konvensional maupun jaringan.

Sambutan baik dari generasi muda, khususnya kalangan mahasiswa yang mengirimkan karya tulisnya, terdapat 36 Naskah dari 36 Peserta yang masuk ke panitia dalam kurun waktu 2 bulan, yaitu sejak 21 Juni hingga 22 Agustus 2013. Peserta tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia baik jenjang diploma III dan Strata I, untuk memperebutkan hadiah dengan total sebesara 43 juta rupiah dan piala Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Melalui penjurian yang ketat dengan kriteria antara lain orisinalitas karya, dewan juri memutuskan Andin Rahmana Putra, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada sebagai pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul naskah “IndoNETsia” (Program Penyiaran Video dengan Konten Seni Budaya Indonesia Berbasis Citizen Journalism).

Melihat antusiasme yang cukup positif di tahun pertama penyelenggaraan kegiatan ini, I Gde Pitana optimis generasi muda memiliki ketertarikan pada sektor ekonomi kreatif dan dapat mengembangkan sektor ini melalui kreativitas yang mereka miliki. Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan bahwa anak muda tidak hanya bisa sebagai penggerak ekonomi kreatif tapi juga calon peneliti bidang Ekonomi Kreatif dimulai dengan karya tulis yang mereka kirimkan.

“Yang jelas apa yang kita alami selama proses perlombaan ini cukup membuat saya optimis bahwa generasi muda sekarang ini sudah mulai tertarik dengan ekonomi kreatif. Jadi nanti kalau kita tanya ke anak-anak muda, mau kuliah dimana? Jawabannya bukan yang konvensional lagi tapi di fashion, animasi, film dan sebagainya,” ungkap Pitana

Dari seluruh jumlah naskah yang ada, Dewan juri yang terdiri dari Prof. Rusdi Muchtar (Peneliti Utama LIPI), Dr. Henny Saptatia (Pakar Sosiologi mass media & dosen Pascasarjana Universitas Indonesia), Wahyu Aditya (CEO Hellomotion Academy) mewakili praktisi ekonomi kreatif serta perwakilan Ditjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya dan Ditjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek menentukan 10 finalis yang telah mempresentasikan naskahnya di Jakarta pada 8 Oktober 2013, yaitu:

Daftar Pemenang dan Finalis

1

I Gde Pitana berharap kreativitas para mahasiswa/i tidak berhenti sampai lomba ini, tetapi harus terus berlanjut sampai para peserta ke kampus dan terjun ke masyarakat atau dunia kerja, untuk memasyarakatkan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional yang pada gilirannya mesejahterakan masyarakat. (Puskompublik)

Kliping

MendadakInterview: Andin Rahmana, Creative and Sultan of Deadline UGM

Disalin dari : http://mendadakiklan.blogspot.co.id/2012/05/mendadakinterview-andin-rahmana.html#.WRcwedwxXIU


Pada interview pertama ini, saya berkesempatan untuk berbincang dengan teman lama, teman waktu SMA, yaitu @AndinRahmana . Walau dibilang teman, sebenarnya kami cuma sesekali bercengkerama, karena saat itu kebetulan terlibat bersama dalam project sekolah 🙂 Yah, tak lama kemudian kami lulus, dan melanjutkan hidup kami masing-masing 😉

Sampai pada tahun 2011, saya dan Andin tidak sengaja bertemu di Linimasa. Saat itu kami tengah sama-sama mengikuti kompetisi iklan #Adwar yang merupakan rangkaian acara @PekanKomunikasi  festival komunikasi tahunan dari UI.

Nah, Andin rahmana saat ini tengah menempuh Studi Ilmu Komunikasi di UGM dan tergabung dalam komunitas periklanan mahasiswa, di UGM, DeADline.

Berikut adalah interview online dengannya

1. Halo Andin Rahmana, pertama-tama bisa perkenalkan diri dulu ke pembaca? dan aktifitas apa saja yang saat ini dijalani?

Hehe, halo semua! Saya Andin Rahmana. Jenis kelamin laki-laki. Nggak usah ditanya kenapa namanya Andin tapi cowok, karena udah banyak yang tanya gitu, sampe bosen jawabnya, haha.
Sekarang ini sedang menjalani kuliah di semester 6, Ilmu Komunikasi UGM. Selain kuliah yang sudah cukup selo (baca : santai) sekarang, menjalankan sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang webdesign, tergabung di komunitas periklanan mahasiswa DeADline UGM sebagai Sultan (pengganti jabatan ketua, hehe), ikutan juga nimbrung sebagai social media specialist di DeADline Agency, mengurus media dan public relation di Forum For Indonesia, jadi tim hura-hura di komunitas marinyanyi dan bekerja sebagai digital media di salah satu radio terkemuka di Jogja, sebut saja Swaragama FM. Eh kesebut :p

2. Sejak kapan mulai “nyemplung” di dunia periklanan? Bisa ceritakan awal mulanya?

Nah, ini yang seru, hehe. Kalau ditanya mulai kapan suka dunia periklanan, jawabannya dari kecil. Sejak TK, aku udah suka buat mantengin iklan-iklan yang ada di TV, terus menyanyikan jingle-nya. Kebiasaan ini kebawa sampai ketemu sama teknologi bernama internet, yang memfasilitasi aku untuk download jingle-jingle iklan itu, yang akhirnya jadi playlist di winamp-ku setiap hari. Nggak cuma jingle sih sebenernya, tapi juga konsep dan detailnya.

Nah ternyata setelah masuk komunikasi UGM, yang tadinya aku masuki cuma karena aku suka ngomong, disediakan konsentrasi khusus untuk Iklan, lengkap dengan Ekskul Iklannya, yang namanya deADline itu tadi. Dan dengan ketemu orang-orang yang sama-sama suka iklan, mulai belajar tentang iklan sampai ikut kompetisi, aku seperti menemukan duniaku disini. #ihik

3. Sekarang di Deadline UGM @deAD_UGM? bisa ceritakan sedikit tentang Deadline?

Ya, seperti dijelaskan diatas, aku sekarang tergabung di deADline UGM sebagai Sultan, karena jabatan ketua is too mainstream. Nggak tahu kenapa mereka milih aku, haha.
Jadi DeADline ini adalah komunitas mahasiswa dimana anak-anak komunikasi UGM bisa lebih banyak belajar iklan dari para senior, dosen, yang lalu bisa dipraktekan untuk sekedar latihan atau ikut kompetisi. Setiap minggu kita berkumpul untuk membahas apa yang sedang hangat sekarang di dunia periklanan, belajar bersama mulai dari konsep, teknik, art, copy, dan perkembangan model iklannya sendiri yang sudah mulai bergeser trennya ke digital. Komunitas mahasiswa periklanan ini sendiri ada banyak, misalnya ada Bohlam di Atmajaya Jogja, KostrAD di UIN Jogja, AirBrand yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Karena tuntutan zaman (asek), maka kami memilih untuk membuka satu sub bagian dari deADline, yaitu deADline Agency, dimana kita memang menangani klien komersial, jadi sekalian melatih para mahasiswa ini menghadapi dunia profesional. Tentunya tarifnya nggak setinggi agency beneran, tapi kan buat kita mahasiswa ini, yang penting portfolio dan pengalamannya 🙂

Personil DeADline UGM, Andin Rahmana (tengah). image credit: http://3.bp.blogspot.com/-tWeAlcYIeP4/TkZr0z8D7jI/AAAAAAAAABs/riC2-bFSC-w/s680/banner.jpg

4. Apa pendapat Andin mengenai perkembangan komunitas periklanan mahasiswa saat ini, jika dilihat mulai banyak yang menunjukkan taringnya melalui berbagai festival iklan?

Periklanan mahasiswa Indonesia makin ngehits! Setiap tahun makin banyak karya-karya keren yang menembus festival iklan nasional bahkan internasional. FYI, agency of the year Pinasthika 2009 aja dimenangkan oleh komunitas periklanan dari UMY Jogja. Bahkan Bohlam dari Atma Jogja sudah bisa menembus Top 10 Agency Nasional di Citra Pariwara 2007. Beberapa jempolan juga ada yang masuk shortlist D&AD dan Young Cannes. Menurutku yang penting tinggal keberlanjutan dan kemampuan untuk terus berkembang aja sih, tapi so far so good, bahkan to good to be true #opotoh.

 

Cannes Lion Award. image credit: http://scene.yahoo.net/cannes-2011/wp-content/uploads/cannes-lion-award-295×295.jpg

5. Apa pendapat Andin mengenai festival iklan/kreatif yang saat ini banyak di Indonesia?

Bagus lah tentu saja! Dimana lagi kita bisa menemukan wadah untuk berkarya dan berkompetisi? Dengan banyaknya festival iklan / kompetisi iklan ini, para mahasiswa yang punya passion di periklanan ini bisa terus mengasah kemampuannya untuk jadi yang nomor satu. Jalan bebas hambatan untuk masuk ke agency nasional juga terbuka lebar buat para pemenang festival iklan ini. Jadi, kesempatan sudah banyak, kurang apa lagi untuk jadi motivasi berkarya sebaik-baiknya?

6. Pasti ada dong projek yang paling menarik yang pernah dikerjakan? Bisa ceritakan mengenai projek tersebut?

Emmm, kalau saat ini project yang paling menyenangkan sih ketika deADline Agency mendapatkan tantangan dari sebuah produk cemilan lokal di Jogja yang sebenarnya produknya bagus, tapi tinggal bagaimana komunikasi pemasarannya yang dibenerin. Sebut saja Bakpia *piiipp*. Nah sebagai agency baru yang merasa punya kemampuan dan pengalaman banyak padahal enggak juga, ini menjadi menarik karena klien yang dihandle pun udah beneran. Kalau ada yang salah, ya nama klien yang tercoreng. Dan inipun nggak bisa main-main.Tapi justru tanggung jawab itu yang seru, bagaimana kita bekerja sekreatif mungkin, dengan segala batasan yang ada karena kita udah menyangkut public places, bukan lagi presentasi di kelas. Dan hasilnya, sampai sekarang klien tersebut mempercayakan solusi komunikasi pemasarannya ke kita dan perkembangan brand awareness produknya pun cukup baik. Semua senang lah istilahnya 🙂

7. Menurut kamu apa yang paling menyenangkan dari dunia iklan?

Iklan itu unik dan manipulatif! Bikin iklan itu bukan seperti bikin makanan yang kalau resepnya diikuti, pasti rasanya bakal sama, yaitu enak. Perlu pendekatan tersendiri dalam berkomunikasi terhadap suatu kelompok, perlu mengenal mereka lebih dekat lewat riset, lalu menerjemahkannya dalam proses brainstorming yang bikin muka kusut tapi girangnya setengah mati kalau udah nemu ide yang menurut kita oke banget. Singkatnya, prosesnya itu lho!

8. Apa ada hal yang tidak menyenangkan, ketika di dunia periklanan? Jika ada sebutkan?

Satu hal paling tidak menyenangkan di dunia periklanan menurutku, atau paling tidak menurut kami di DeADline adalah deadline itu sendiri. Haha.
Budaya di dunia iklan, atau lebih tepatnya di komunitas / agency kami yang lebih suka bekerja mepet-mepet deadline, padahal klien sukanya “brief hari ini deadline kemarin”. Begitupun kompetisi iklan, deADline itu nyebelin. Oh iya, resiko untuk saling curi-curian ide juga rawan. Namanya ide kan nggak bisa kita kasih copyright. Begitu kesebut, ide itu jadi milik publik. Semua orang bisa pakai untuk project pribadi mereka masing-masing. Yang punya ide tinggal garuk-garuk kepala aja.

9. Pertanyaan ringan, Menggambar atau Menulis?

Wah, pertanyaan ringan tapi sulit ini. Keduanya aku suka, tapi kalau harus memilih, aku pilih menulis. Seperti halnya kalau bikin iklan, aku memposisikan diriku di copy. Padahal nggak bagus-bagus amat juga copynya. Tapi lebih nggak bagus lagi kalau bikin art, haha. Sok nyeni tapi ga bisa bikin. :p

9. Pergi ke kafe atau pergi naik gunung?

Kalau ini lebih gampang.. Jelas Kafe lah! Aku bisa dibilang sebagai anak rumahan yang suka kenyamanan, dibandingkan harus keluar dan berjuang diluar sana. Duduk, diam, mengetik, dan memperkosa laptop untuk mengerjakan sesuatu yang lebih dari apa yang dia bisa kerjakan. Oh iya, sambil minum chocolatte. Sambil dengerin musik. Andin banget 🙂

10. Adakah iklan/campaign favorit? Bisa sebutkan?

Waduh, apa ya? hehe..
Aku suka nggak fokus kalo liat banyak iklan bagus, pengennya suka semua, haha.
Mungkin kalau aku bisa pilih salah satu, yaitu adalah salah satu print ad dari campaign Nike yang Just Do It
Copynya adalah : “Yesterday, you said tomorrow. Just do it.”. Itu menurutku brilian! Sangat menusuk kedalam sanubari umat manusia saat ini. Haha.

Image credit: http://www.wopp.biz/images/c19b84c7ba61c09c13264336a5ddef2a.png

Oh iya, ada lagi! Untuk level nasional, aku suka banget iklan buatannya bohlam, mereka memberinya judul High Five. Coba tonton sendiri dan temukan dimana serunya.


Upload by AdityaOetama, http://www.youtube.com/watch?v=PhctrgWx-gE

11. Apa ada tokoh periklanan baik di Indonesia maupun di dunia yang  menjadi influence untuk terus berkreasi saat ini?

Pungkas Riandika! Coba cek dia di @pungkas. Menurutku dia sangat inspiratif, berawal dari mahasiswa yang punya passion di periklanan, dan kemudian dia berhasil menembus panggung Pinasthika dan Citra Pariwara. Karya-karyanya brilian, sampai saat ini. Salah satunya ya High Five yang aku sebutin diatas itu. Meskipun dia nggak lulus sampai sekarang (maaf ya bang pung, harus ku sebutin :p), tapi dia sudah kemana-mana. Di Pinasthika, jabatannya sekarang adalah Executive Director, dan hubungan antara petinggi-petinggi periklanan di Indonesia sudah sangat baik. Tidak berhenti berkarya, dengan kualitas yang luar biasa. Itu kalimat tepat menggambarkannya.
Oh iya, lupa. Sekarang dia jadi Manager Google Business Groups untuk region Jogja. *geleng-geleng kepala*

12. Apa target yang ingin dicapai kedepan?  

Lebih banyak terjun ke dunia advertising, lebih fokus di digitalnya. Punya agency digital tentu saja goal besarnya. Memadukan antara copy dan art serta dunia digital itu serunya dua kali lipat dibandingkan cuma bikin print ad / radio ad / uncon. Doakan semoga cepat tercapai ya twips, hehe.

13. Ada ADvice yang ingin disampaikan kepada pembaca? khususnya yang saat ini ingin terjun juga di periklanan?

Wah, macak senior aja nih pake ngasih ADvice, hehe. Jangan cepat puas dan terus belajar aja sih. Belajar – berkarya. Belajar – berkarya. Kata ayah Djito Kasilo, senior Strategic Planner di Indonesia, percuma adalah Ide yang tidak dieksekusi dengan baik. Atau Eksekusi yang baik tapi idenya buruk. Belajar dan latihan terus untuk menghasilkan ide yang oke, dan kalau memang nggak bisa bikin eksekusi yang bagus, gandeng lah partner untuk melengkapi dirimu. Kita diciptakan berbeda-beda untuk saling melengkapi bukan? hehe. Nggak usah malu untuk memulai dan belajar, karena semuanya juga masih belajar. Ikuti aja terus festival periklanan dimana-mana. Kalah itu biasa. Dan yang terakhir, jangan mudah jatuh cinta pada ide pertama.

14. Terima kasih Andin Rahmana, sudah bersedia di wawancara! 🙂

Sama-sama mas den. Aku nggak pede nih kalau menyertakan gambar / karya, hihi. Cek di deadugm.blogspot.com aja ya… Ada beberapa iklan radio yang aku unggah disitu. Salam pariwara!

Seputar Kehidupan

Pengalaman Beli Rumah

Dipikir dulu. Jangan buru-buru. – Ibu.

Sebulan terakhir sudah ada 3 orang teman dekat yang minta saran untuk beli rumah. Memang obrolan soal rumah ini lagi trending ya sekarang, apalagi saat beberapa media online nulis tentang kita-kita yang millenials ini bakal susah beli rumah karena gaji yang tak seberapa dan gaya hidup yang agak sosialita. Btw, yang dibahas ini rumah beneran ya, bukan rumah plastik warna hijau yang kalau ada di kotak sebelum “Start” bisa langsung bikin bangkrut.

Sebagai ayah satu anak yang sudah punya rumah (meskipun sekarang dikontrakkan dan juga sedang ngontrak di kota yang lain), sudah sewajarnya untuk berbagi informasi dan rekomendasi tentang beli tempat tinggal sekaligus investasi buat dibawa ke calon mertua ini. Kalau cerita pengalaman ini bermanfaat syukur, kalau pun nggak, mungkin belum aja. Jadi, coba pertimbangkan beberapa hal ini terlebih dahulu.

Gaya Hidup

Apa hubungannya gaya hidup sama beli rumah? Coba tanyakan dulu ke diri sendiri, dengan gaya hidup yang sekarang :

  • apakah bisa konsisten menyisihkan sebagian uang setiap bulan buat bayar cicilan ditambah pengelolaan rutin dan hal-hal yang nggak terduga?
  • apakah siap untuk punya tanggung jawab sebuah rumah?

Kalau jawabannya iya, selamat. Kalau belum, kuatkanlah dirimu sampai jawabannya iya.

Lokasi

Saat aku agak kemrungsung (terburu-buru, seperti biasa) menyampaikan rencana beli rumah ini ke Ibu dan menyodorkan beberapa alternatif rumah, sekitar setengah tahun sebelum menikah, quotes diatas adalah jawaban beliau.

Lokasi (ternyata) jadi pertimbangan yang sangat penting untuk memilih mau beli rumah dimana. Lokasi ini termasuk :

  • kota mana,
  • daerah mana,
  • seberapa jauh dari keramaian, tempat beraktivitas dan pusat kota,
  • fasilitas umum apakah terjangkau?
  • Dan seterusnya.

Kalaupun lokasinya agak jauh dari pusat kota, di daerah penunjang misalnya, gimana opsi transportasi umumnya, gimana lalu lintas sekitarnya harus jadi prioritas.

Setiap lokasi juga pasti punya plus minusnya. Ada daerah rawan gempa / bencana. Ada daerah yang sejuk. Ada daerah yang airnya agak keruh. Ada juga yang karena pembukaan daerah baru, belum dilewati oleh Telkom dan provider lainnya untuk pasang telepon, internet dan tv kabel. Ini juga harus diperhatikan sejak awal, karena penyesalan selalu ada di belakang, kalau di depan namanya pendaftaran (Ndin, tolong jangan pakai joke ini lagi dong).

Jadi saat itu ceritanya, setelah sangat yakin untuk membeli sebuah rumah di Sleman, sebelah utara kota Jogja bulan September 2015, 6 bulan kemudian memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Nah, itu contoh yang jangan ditiru ya. Pastikan dulu dengan seyakin-yakinnya mau menetap dimana, karena impilikasinya akan kemana-mana.

Kualitas Rumah dan Pengembang

Karena rumah akan ditinggali dalam jangka yang sangat panjang, alangkah baiknya untuk memastikan kualitas rumah dan track record pengembang dengan agak detail. Banyak-banyak datang ke pameran dan iseng-iseng tanya ke para developer disana akan menambah khazanah pengetahuan kita tentang detail kualitas rumah. Gentengnya, atapnya, catnya, keramiknya, tingginya, temboknya, lampunya, instalasi listriknya, pintunya, dan alat-alat pelengkap lainnya coba dibandingkan antara satu rumah dengan rumah lain.

Ukuran Rumah dan Tanah

Ukuran rumah boleh 36 atau 45, tapi kalau bisa tanahnya dua kali lipat dari ukuran rumahnya, biar enak pengembangan kedepannya. Untuk yang baru menikah dan mau rumah yang minimalis dulu, ukuran 36 m2 adalah pilihan yang agak sempit. Sangat disarankan memilih rumah berukuran 45 m2 keatas, syukur-syukur kalau sudah dua lantai. Tapi karena masih berdua, disarankan jangan besar-besar biar nggak capek ngepelnya.

Lingkungan

Karena kita akan memasuki sebuah lingkungan baru, ada baiknya cek cek ombak dulu disana seperti apa. Sebagai pendatang, kita yang akan menyesuaikannya, bukan mereka yang akan menyesuaikan keinginan kita. Pertanyaan yang harus dijawab :

  • Apakah lingkungan disana sudah sesuai harapan?
  • Ada tetangga sesuai harapan kita?
  • Adakah tukang nasi goreng yang lewat malam-malam?
  • Apakah ada kamling setiap malam?
  • Apakah Pak RT-nya baik hati?
  • Dan seterusnya.

Hal-Hal Non Teknis Lainnya

Sering kali penentu dalam memilih rumah adalah hal-hal non teknis yang antara mau percaya tapi kok enggak. Mau enggak tapi kok ya percaya. Seperti ini misalnya :

  • Ada kuburan di sekitar rumah?
  • Ada pohon pisang / bambu di sekitar rumah?
  • Rumah menghadap kemana?
  • Pintu depan dan pintu belakang segaris atau tidak?
  • Dapur ada di depan atau di belakang?
  • Ada cerita apa dari penduduk setempat?
  • Dan seterusnya.

Pembiayaan

Biasanya, setiap pengembang sudah bekerjasama dengan lebih dari satu bank penyedia layanan KPR. Jadi prosesnya akan lebih mudah dibandingkan ngurus sendiri langsung (katanya). Tahapan pembiayaan ini adalah sebagai berikut :

  • Deal-dealan harga dengan pengembang.
    Di bagian ini tanyakan sedetail-detailnya tentang pajak, biaya ganti nama, notaris, provisi, administrasi, asuransi, dan nilai dp.
  • Tanda jadi / booking fee
    Sebagai bentuk keseriusan kita sebagai pembeli, kita akan diminta booking fee dengan nominal bervariasi (biasanya 5-10 juta dan memotong DP), sebelum melangkah ke pengajuan KPR ke Bank.
  • Pengajuan KPR ke bank
    Biasanya (tapi tidak selalu) pengembang akan langsung memasukkan dokumen penjualan kita ke beberapa bank. Dalam kasusku, langsung ke 4 bank berbeda. Masing-masing bank akan menghubungi dan memberikan penawaran. Pilih mana yang paling bagus penawarannya.

    Note : Pastikan kita nggak punya dosa keuangan seperti telat bayar kartu kredit, total kredit lebih dari 30% pendapatan, dll agar proses lancar.

  • Appraisal bank
    Kalau sekiranya sudah cocok dengan salah satu bank, mereka akan melakukan survey ke rumah dan memberikan taksiran harga kira-kira mereka mau menanggung berapa untuk jadi nominal KPR kita.
  • Pembayaran DP
    Bagian ini agak tricky. Jangan senang dulu kalau DP rumah yang ditetapkan pengembang cuma 5%. Kalau hasil appraisal bank dibawah harga rumah kita, selisih itu yang akan kita bayarkan di depan sebagai DP.

    Contoh :
    Harga rumah : Rp 500 juta
    DP pengembang 5% : Rp 25 juta.
    Harga rumah dikurangi DP : Rp 475 juta

    Hasil appraisal / taksiran bank : Rp 450 juta (nominal yang akan dijadikan nilai KPR)
    Selisih antara harga rumah dikurangi DP dan hasil appraisal : Rp 25 juta
    Total DP pengembang + selisih harga appraisal : Rp 50 juta (10%)

    Dengan gambaran diatas, DP nggak jadi cuma 5%, tapi bertambah jadi 10% yaitu sebesar Rp 50 juta. Biaya tersebut belum termasuk biaya provisi, notaris, pajak, administrasi dll lho ya.

  • Pembayaran lain-lain
    Seperti yang dijelaskan di bagian deal-dealan harga, waktunya membayar ini dan itu. Jangan kaget kalau pajak dari rumah yang kita beli adalah 10% dari nilai rumah, yang berarti dengan gambaran diatas adalah Rp 50 juta sendiri. Jadi total udah Rp 100 juta dari nilai DP awal + selisih appraisal + pajak, yang diperkirakan sebelumnya cuma Rp 25 juta. Belum sama biaya notaris, provisi, dll.

    Note : Bisa jadi ada paket / promo tertentu dari pengembang yang memungkinkan beberapa komponen biaya diatas jadi tanggungan pengembang.

  • Perjanjian jual beli dan serah terima kunci
    Setelah semua rangkaian diatas selesai, kita akan diundang dengan hormat ke bank, ketemu dengan pihak bank, developer dan notaris dalam satu meja untuk melakukan perjanjian jual beli. Semacam ijab qabul lah. Setelah tanda tangan beberapa kali diatas materai dan paraf di setiap salinan akta, kita dinyatakan sah sebagai pemilik rumah resmi, dan berhak membawa pulang kunci rumah.

Kesimpulan

Jadi, karena harganya bukan ratusan ribu dan akan dipakai dalam jangka waktu yang sangat panjang, tidak terburu-buru dalam membeli rumah adalah sebenar-benarnya benar. Pelajari semua, dalami sedetail-detailnya. Kalau sudah yakin, barulah jalan, karena seruanNya adalah “Tinggalkanlah keragu-raguan”.

Jangan malu untuk konsultasi ke orang-orang terdekat, para pemangku kepentingan, atau teman yang sudah pernah mengalami fase ini sebelumnya. Budayakan bertanya sebelum tersesat di rumah sendiri, hehe.

Selamat mencari rumah!

Seputar Digital

Pengalaman Investasi Online

Never get dependent on one source of income, make investment to create second source” -Warren Buffett

Sebagai seorang bapak-bapak mas-mas yang sudah punya anak, ada momen-momen random dimana tiba-tiba kepikiran masa depan. Bakal tinggal dimana, posisi keuangan gimana, anak sekolah dimana. Berat ya, hahaha.

Quotes diatas sendiri sudah aku tahu dari 2013, waktu magang di sebuah perusahaan IT yang berkantor di Bursa Efek Indonesia, tapi karena relevan dengan isu-isu sekarang ini, jadi keingetan lagi untuk mulai berinvestasi. Setelah perjalanan panjang yang sangat intens setahun kemarin : beli rumah seisinya – nikah – pindahan ke jakarta – dan punya anak, saatnya sekarang untuk mempersiapkan masa depan dengan berinvestasi.

Pilihan investasi pertama jatuh ke emas. Resikonya kecil, relatif aman, dan barangnya jelas. Beli, simpan, jual kalau lagi perlu. Yang paling menyenangkan dari emas adalah, nggak berasa kayak nabung, tapi rasanya kayak belanja. Kalau dulu di Jogja biasa beli emas langsung ke tokonya, karena kemana-mana dekat dan nggak macet. Nah kalau sekarang di Jakarta, opsi beli emas ke tokonya langsung jadi agak repot.

screen-shot-2015-03-30-at-2-34-22-pm-e1427701470296

Akhirnya ketemu tempat beli online emas yang cukup bisa diperaya, di www.orori.com. Pesan, transfer, barang diantar. Bisa milih juga beberapa jenis emas sesuai selera dan kebutuhan. Misalnya emas antam yang 1 gramnya ada di harga Rp 610.000 atau emas UBS yang beberapa puluh ribu lebih murah. Oh iya, kalau daftar sebagai member, langsung dapat voucher beli perhiasan Rp 500.000 dan diikutkan ke undian berhadiah emas batangan. Oke, checklist emas.

Pilihan investasi kedua ini nih yang lebih menantang, reksadana. Sebenarnya dari dulu udah pengen investasi di reksadana karena bisa mulai dari Rp 100.000 dan bisa milih tingkat resiko yang mau diambil. Sayangnya, karena antara masih ragu dan males, belum sempat ke bank atau tanya-tanya lebih lanjut tentang reksadana ini.

Sampailah sebuah email masuk dari Bukalapak. Begitu baca, aku langsung bilang, “Ini Dia!”, ala acara situasi komedi di NET. Bukalapak bekerjasama dengan CIMB Niaga bikin Bukareksa, buka reksadana secara online mulai dari Rp 10.000. Detik itu juga langsung buka.

a1cc50a062664616857938d4cbcf799b_melalui-bukareksa-platform-marketplace-bukalapak-tawarkan-pembelian-reksa-dana

Enaknya adalah ada dashboard dimana kita bisa top-up saldo, beli dan jual secara mandiri. Berapa keuntungannya dan kapan mau dicairkan juga terserah kita. Transparansi ini yang bikin aku jadi tertarik, dan nggak ada salahnya buat nyoba. Setelah 3 hari daftar, dana diverifikasi dan dinyatakan aktif. Tinggal kita lihat aja perkembangannya uangnya jadi berapa.

Pilihan ketiga ini nih yang lebih seru lagi, namanya peer to peer landing. Investasi berbasis financial technology (fintech) ini menjembatani orang yang punya uang berlebih untuk diinvestasikan dengan orang yang lagi butuh uang buat usaha / keperluan lainnya. Semuanya dapat win-win solution, yang memberi pinjaman dapat bunga yang lebih besar dalam waktu yang relatif cepat, dan yang dapat pinjaman nggak perlu terlalu repot cari pinjaman ke bank dan bisa dapat uang lebih cepat.

Aku tertarik buat langsung daftar ke salah dua fintech peer to peer landing ini, Koinworks dan Investree. Alasannya, yang pertama pernah baca di timeline seorang selebtwit, dan yang kedua sering dengar di portal informasi startup semacam TechInAsia.

investree

aplikasi-koinworks

Mekanismenya relatif sama. Bikin akun – verifikasi dengan tanda tangan online beberapa dokumen – top up saldo – pilih profil yang akan dipinjamkan uang, lengkap dengan informasi resiko, bunga yang akan didapat, dan informasi uangnya akan dipakai untuk apa. Bedanya, kalau di Koinworks investasi bisa dimulai dari Rp 100.000, sementara Investree minimal Rp 5.000.000. Informasinya cukup jelas untuk pemula yang mau mulai berinvestasi dan diingatkan untuk selalu berhati-hati karena resiko ditanggung sendiri.

Tiga investasi online yang aku sebutkan diatas (Bukareksa, Koinworks dan Investree), masing-masing menyatakan belum diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) karena aturannya sampai saat ini masih dikembangkan dan belum dirilis. Tapi melihat latar belakang dan jumlah dana yang dikelola mereka saat ini, aku merasa cukup aman dan terpercaya kalau mau berinvestasi di salah satu atau tiga-tiganya.

Selamat mencoba berinvestasi!

Note : Semua platform yang dijelaskan di halaman ini bukan posting berbayar dan semuanya telah dicoba oleh penulis.

Seputar Digital Seputar Kehidupan

Istilah Pintar Di Ibukota

If you can’t make it good, at least make it look good. – Bill Gates

Sebagai orang baru di Jakarta, aku mengagumi bagaimana orang-orang di ibu kota bekerja. Cepat, achiever, gesit, menekan, dan selalu tampak wah, paling tidak itu yang kontras dibandingkan dengan 7 tahun kerja di daerah dulu. Bagian selalu tampak wah bisa dilihat dari bajunya, design, gerakan, gaya bicara, dan terakhir kata-kata yang digunakan. Meskipun sebenarnya nggak sebagus itu, minimal tampilannya bagus. Pepatah dari mantan orang terkaya nomor satu dunia diatas jadi relevan, karena kemasan melindungi isi. However, people do judge the book by it’s cover.

Aku menaruh perhatian khusus pada kesukaan orang sini menggunakan istilah yang cenderung asing bagi orang awam, namun meningkatkan derajat seketika didepan lawan bicara, dan dimengerti oleh kalangan di tingkatan yang sama. Biar nggak lupa dan sekalian bisa berguna buat yang lain, ini dia istilah pintar yang berhasil dirangkum tim On The Spot :

Deck (kata benda) ; file presentasi powerpoint / keynote.
Kirimin deck yang paling update dong. 

PFA (istilah email) ; please find attachment.
Dear Rizki, PFA. Thanks.

WIP (kata kerja) ; work in progress, meeting untuk cek progress masing-masing.
Besok jam 2 kita WIP ya.

COB (keterangan waktu) ; close of business (maksimal jam tutup kantor)
Kirimin revisinya COB ya.
Varian : EOD (End of day / maks jam 24:00), By Today (maks jam 24:00)

On Me (kata kerja) ; aku bayarin.
Kantin yuk, on me.

Q (keterangan waktu) ; quarter (periode tiga bulanan ke-x)
Kapan kita meeting plan Q4?
Varian : H (half, periode 6 bulanan), W (week, periode minggu ke-x)

MoM (kata benda) ; minutes of meeting, notulen rapat.
Dear All, terlampir MoM untuk meeting planning Q4 kemarin.

YTD (keterangan waktu) ; year to date, dari awal tahun sampai hari ini.
YTD kita baru achieve 55%

Basket Size (kata benda) ; jumlah item / pembelanjaan dalam 1 kali transaksi.
Average basket size kita meningkat bulan ini karena promo X

As per ; sesuai dengan
Dear Ricky, as per diskusi kita hari ini, perubahan jobdesc …

Sementara itu dulu deh, ada yang mau menambahkan?

 

Ayah Digital Seputar Digital

Caraka dan Cafca

Menjadi ayah yang baik dan benar nggak ada sekolahnya

Suatu hari, salah satu senior di kantor radio di Jogja, Ayu Rizqia, memberikan sebuah buku sebagai kado pernikahan. Buku itu berjudul “Catatan Ayah ASI”, menceritakan kisah para ayah yang menjadi suami supportif, agar istrinya senang dan bayinya tenang. Akhirnya, setelah baca buku ini, jadi sedikit banyak dapat gambaran gimana pentingnya peran seorang ayah dalam rumah tangga, yang nggak sekedar cari uang aja. Sangat direkomendasikan untuk yang akan menjadi ayah atau sudah jadi ayah.

ayah-asi

Buku itu kedatangan teman, judulnya “Anti Panik Mengasuh Bayi 0-3 Tahun” produksi Tiga Generasi. Waktu itu (sebelum lebaran 2016) agak susah nyarinya, sekarang sih udah gampang. Intinya, setiap ayah memang perlu belajar untuk menjadi ayah yang baik dan benar, karena banyak mitos yang salah dan sangat minim forum untuk ngajarin yang benar.

buka-buku_buka-buku-buku-anti-panik-mengasuh-bayi-0-3-tahun-by-tigagenerasi_full02

Bagian yang pertama kali aku highlight dari buku ini adalah, cara menghentikan tangisan bayi, hahaha. Diakui atau engga, sebagai first time dad, kalau bayi udah nangis, pasti bawaannya panik. Ternyata saat kita panik, bayi bisa merasakan dan makin nggak nyaman. Yang ada ayah sama bundanya makin stress, bayinya juga makin kenceng tangisannya.

Penyebab tangisan bayi ternyata ada banyak, dan harus dicari tahu kenapa si bayi nangis. Bisa jadi, penyebabnya adalah :

  • popok penuh
  • lapar
  • kepanasan / kedinginan
  • bosan (aku dengan penat, dan enyah saja kau pekat)
  • sakit
  • ingin diperhatikan
  • mengantuk tapi nggak bisa tidur

Nah, seperti kata buku tulis Sinar Dunia, experience is the best teacher, semakin lama berinteraksi dengan bayi, kita jadi lebih tahu apa penyebab bayi menangis dan cara menenangkannya. Memang perlu waktu dan kesabaran ekstra sih, hahaha.

Masih menurut buku yang sama, ada beberapa cara menenangkan bayi menangis, yang semuanya sudah dicoba dan sebagian berhasil :

  • memberikan susu
  • menggendong sambil bersenandung
  • menggendong naik turun tangga
  • mengganti popok
  • menyelimuti bayi,
  • dan yang paling manjur : menggumamkan ssshh.

Apalagi kalau semua dilakukan, pasti manjur banget, hahaha. Khusus poin terakhir, konon saat kita bilang ssshhh (nggak usah pake naruh telunjuk di bibir si bayi), bayi akan jadi tenang karena suara itu seperti saat masih dalam perut bunda. Nah ssshhh nya boleh sambil dimainkan nada apa saja, yang penting nggak terlalu keras.

Selain ssshhh, dalam sebuah diskusi di kantor sebelum yang sekarang, ada sebuah video yang diklaim bisa menghentikan tangisan bayi dengan tingkat keberhasilan 96,2%. Sebagai ayah digital, ini jelas menarik. Videonya penuh warna, penuh suara lucu, dan tokohnya menggambarkan produk permen Lotte di Jepang, namanya Cafca. Emang bener bisa menghentikan tangisan bayi? Coba tunjukkan video ini ke si dedek saat nangis.

Setelah dicoba ke Caraka, eh berhasil! Hahaha
Meskipun tampilannya agak serem menurut orang dewasa, video ini punya musik dan gambar yang didesain sedemikian rupa, dengan gelombang suara 6000-7000 hertz dan nada yang ceria, agar membuat si bayi lupa dengan kesedihannya.

Ms Suzuki, who supervised production of the video, explains that children show continuous interest in their surroundings.  A phenomenon called orienting reflexes allows them to process sudden changes in their environment.  If you give babies constant stimulus through songs and images they will forget their crying in order to take in these sudden changes.

Jadinya fokusnya ke video, bukan ke hal yang bikin dia nangis. Tapi menurut yang membuat juga, video ini nggak berfungsi kalau memang nangisnya karena lapar, popok penuh, dan masalah utama lainnya. Cobalah sesekali memutarkan video ini, dan kita lihat apakah si dedek berhenti nangis atau engga.

Sebagai ayah digital, harus mengingatkan juga kalau ada baiknya juga video ini nggak terlalu sering diputar ya. Karena interaksi antara bayi dan gadget terlalu sering itu nggak bagus. Putarkan saat-saat darurat aja, dan sisanya kembali ke ssshhh.

Semoga bermanfaat!