future

Sore ini, aku dan Hawwin, salah seorang teman dekat se-jurusan sejak semester 1, berkelana dari Jakal (Jalan Kaliurang) ke Monjali untuk melaksanakan sebuah misi maha penting. Misi tersebut adalah, mendaftar les mobil. *tarakdus*

Sepanjang jalan, karena kami semotor, untuk mengisi waktu membelah kemacetan sepanjang Jakal, kami akhirnya mengobrol. Dan dengan tema obrolan yang semakin berat, semakin sadarlah kami, kalau kami sudah tua. Sekali lagi, sudah tua.

Topik obrolan dimulai dengan kesibukan sehari-hari. Wajar lah ya kalau ini. Tapi kemudian, topik selanjutnya yang adalah “mau kerja dimana, dan akan punya kehidupan di masa depan seperti apa”, itulah yang menjadikan sore ini cukup berat.

“Aku lagi bingung. Kalau kerja di Jogja, cukup sih buat hidup, tapi apa kabar tabungan masa depanku?”, kata suara 1.

“Yo memang rate gaji di Jogja segitu sih. Tapi itu udah bagus lho. Dan lumayan kan kalau mulai dari belum lulus?”, kata suara 2.

Ya, betul sekali. Kami mulai galau masa depan. Memang sudah bukan lagi galau mau kerja apa sih, karena sudah tahu bidang yang akan dituju. Tinggal, mau kerja dan tinggal dimana. Nah, itulah pertanyaan selanjutnya.

“Kamu mau beli rumah apa apartemen?”, kata suara 1 lagi membuka sesi tanya jawab selanjutnya.

“Rumah aja ah. Lebih enak gitu, apartemen kan cuma sekecil itu.”, jawab suara 2.

“Aku nggak tahu sih kalau lagi Jogja, tapi kalau di Jakarta, orang-orang udah pada pindah ke apartemen. Pajaknya rumah mahal soalnya. Nanti kalau pajaknya lebih besar dari gajiku, piye?”

“Bener juga sih. Itu apartemen yang lagi promo, berapaan to cicilannya sebulan? Sama gaji kita, nutup nggak ya sebulan, haha.”

Dan seterusnya.

Wajar nggak sih kalau sudah galau dari sekarang. Wajar kan ya?

Leave A Comment