Selamat hari buku nasional!

Beberapa minggu lalu, salah seorang teman dari semasa ospek yang udah lama nggak ketemu, Risa, meminjamkan sebuah buku. Buku ini bagus banget katanya, dan maknanya dalem. Tanpa ekspektasi apapun, karena memang belum pernah baca buku sejenis itu, akhirnya aku bawa pulang dan baru sempet baca setelah beberapa hari nginep di tas.

Oh iya, ini bukunya. Judulnya The Noticer, karya Andy Andrews. Di Indonesia, sudah diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Harganya setelah searching sekitar Rp 40.000.

TheNoticer

Ternyata, setelah dibaca perlahan di suatu waktu luang, buku ini nggak cuma bagus, tapi luar biasa. Keren banget, dan bisa jadi buku terbaik sepanjang masa yang pernah aku baca sampai saat ini.

Buku ini menceritakan tentang Jones, seorang gelandangan tua yang tiba-tiba muncul di kehidupan-kehidupan orang-orang yang sedang punya masalah di suatu daerah di Amerika sana. Nggak perlu dipermasalahkan bagaimana dia bisa muncul layaknya malaikat ketika seseorang menghadapi kesulitan, dan dia bisa tahu semua hal, tapi lebih kepada apa yang dia bilang.

Ada sebuah bagian favorit di buku ini versiku. Jadi ceritanya, ada sepasang suami istri yang akan bercerai. Alasannya sederhana, mereka merasa sudah tidak saling mencintai lagi. Padahal dari luar, mereka adalah suami istri yang secara finansial nggak bermasalah, berkecukupan malah. Tapi saling emosi satu sama lain itulah yang bikin mereka pengen cerai.

Si suami merasa, dia sudah melakukan banyak hal untuk istrinya, tapi si istrinya nggak menghargai apa yang dia lakukan. Si istri pun begitu, dia merasa sudah nggak dicintai lagi.

Jones tiba-tiba hadir dan mengajak sepasang suami istri itu untuk lihat dengan perspektif yang lain. Ya, sepanjang buku ini, kita akan diajak menggeser perspektif yang selama ini kita gunakan. Dan semua masalah itu, menurut Jones, hanya masalah perspektif.

Ternyata, masalah diantara pasangan ini adalah, perbedaaan cara berbahasa cinta. Emang ada yang namanya bahasa cinta? Kita yang ternyata nggak update, haha.

Jadi, bahasa cinta itu ada 5. Setiap orang, mungkin berbahasa dengan ke-lima-limanya. Tapi, pasti ada satu bahasa yang dominan untuk digunakannya. Ilustrasinya gini deh, si cowok berbahasa indonesia sehari-harinya. Dia sampai mati menjelaskan ke si cewek yang berbahasa rusia sehari-hari. Ya nggak ketemu. Nah, 5 bahasa cinta itu adalah :

1. Sentuhan

Orang yang berbicara dengan bahasa cinta sentuhan, akan merasa dicintai bila disentuh, dan  mencintai dengan cara menyentuh. Menyentuh disana bisa diartikan merangkul, memeluk, mencium, hingga berhubungan seksual. Intinya, mereka sangat suka menyentuh, dan disentuh.

2. Pengakuan

Orang-orang ini sangat suka dipuji, diakui, dan otomatis memuji dan mengakui. “Kamu cantik, ganteng, hebat, luar biasa, aku sayang sama kamu”, adalah kalimat yang sangat mereka sukai. Mereka mungkin suka sentuhan, tapi lebih suka kalau diakui, dan mengakui.

3. Waktu Yang Berkualitas

Nah kalau yang ini, mereka sangat suka meluangkan waktu untuk bersama orang yang dicintainya. Mereka juga suka kalau diajak menemani si pasangannya, untuk sekedar berjalan-jalan, belanja, nonton tv, berdiskusi, makan es krim, dst. 

4. Hadiah (Barang Pemberian)

Mereka sangat suka kalau dikasih hadiah. Dalam bentuk barang ya. Misalnya oleh-oleh, baju, parfum, payung, martabak, atau apapun. Cara mereka mengungkapkan cinta pun, dengan memberikan hadiah beruoa barang.

5. Pelayanan / Perbuatan

Dan yang terakhir adalah pelayanan. Mereka suka kalau diberikan servis, atau diperlakukan sesuatu. Misalnya dijemput, dimasakin, dibukain pintu, dikerjain tugasnya, dan semacamnya. Cara mereka berkata cinta pun nggak jauh beda.

Nah, kadang, sepasang kekasih nggak berbicara di bahasa yang sama. Misalnya si cowok berbicara cinta dengan bahasa pemberian / hadiah. Dia sudah membelikan ceweknya barang A-Z, dari yang penting sampai nggak penting. Nah sementara si cewek, berbicara dengan bahasa waktu yang berkualitas. Jadi selama si cowok ini nggak pernah ngasih waktu yang berkualitas, dan si cewek nggak pernah ngasih barang ke si cowok, mereka nggak akan saling merasakan cinta. Cukup mengerti kan sampai disini?

Sekarang, tinggalah kita coba melihat pasangan kita masing-masing, kita bicara dengan bahasa apa, dan dia dengan bahasa apa. Jadi, apa yang kita lakukan, nggak sia-sia buat si dia.

Udah kepanjangan ya? Yaudah deh, selamat berakhir pekan 🙂

Leave A Comment